Jumat, 23 Juli 2010

a Message of Love


Judul: A Message of Love
Peresensi: Rini Nurul Badariah, rinurbad.multiply.com
Penulis: Tria Barmawi
Penerbit: Lingkar Pena Publishing
Halaman: 368


Seperti They Want Me to be Bright, novel bernuansa islami cukup kental ini berbicara tentang pendidikan. Tentu saja di AMoL, cakupannya lebih luas. Penulis menyebut metode beberapa sekolah, dan dengan representasi dialog karakter-karakternya, mengungkapkan kekaguman serta inspirasi yang terdorong oleh sejumlah bacaan menyoal topik itu, di antaranya Totto-chan.

Sub plot yang paling merebut hati saya adalah perihal kedua kakek Zahra, Opa Sakri dan Eyang Anang Sumargana. Hubungan kakek dan cucu yang mesra, dibauri aspek-aspek pengajaran yang indah seperti menulis dengan tinta, semangat berbagi ilmu meskipun telah pensiun, dan menerjemahkan buku bahasa Belanda, menyentuh batin sampai ke dasar. Tanpa sungkan penulis mengemukakan bahwa kedua sosok menawan ini terlahir dari profil kakek-kakeknya sendiri, membaca uraian demi uraian mengenai mereka menjerat saya dalam perenungan melodius. Pasalnya, saya merasa disuguhi cerita tentang seseorang yang sangat saya kenal dan memiliki kepedulian serupa pada perkembangan masyarakat sekitar, utamanya di pedesaan, seperti Eyang Anang dan Opa Sakri.

Pautan hati kakek dan cucu digedorkan dalam bentuk mimpi, yang hadir selaku pembuka karya fiksi bersampul hijau menyejukkan penglihatan ini. Ada kalanya mimpi bukan bunga tidur, ada pula mimpi yang bukan rekayasa setan lantaran kita lupa membaca doa, tetapi mimpi yang menggema ke nurani sehingga seorang Zahra yang merasa hidupnya monoton dalam perambatan karir belaka terdorong untuk mengikuti petunjuk dari masa lalu.

Mengapa tagline di muka menyebut-nyebut cinta dan persahabatan? Itu pulalah yang dikuak dalam konflik lain A Message of Love. Tiga perempuan yang menjadi karib, diterpa badai kepercayaan dan keraguan meski telah seperti saudara selama bertahun-tahun, karena asmara. Terbetik pesan bahwa seorang akhwat juga manusia, bisa terperangkap cinta sekaligus hasrat menggebu untuk menunaikan keinginannya segera menikah. Kekecewaan yang berkepanjangan digambarkan sangat baik oleh penulis, tanpa jatuh dalam napas sentimentil yang over dosis. Penghujung romansa yang membuat gemas ini dapat ditebak pada titik tertentu.

Elemen personal yang dijumput penulis untuk mempercantik karyanya ini bukan hanya profil kedua kakek, para pendidik yang menerbitkan rasa kagum melimpah, namun juga dialek Malaysia Aziyah, teman kuliah Zahra, yang sangat ‘nyata’ mengingat penulis sempat bermukim di negeri jiran cukup lama.

Faktor lain yang tidak kalah memukau ialah aroma Sunda dalam sebagian latar cerita. Saya tersenyum-senyum kala Zahra, Mutia, dan Dania nyaris pingsan diberondong suguhan makanan serta selalu harus makan setiap kali mampir bertandang [mengingatkan pada masa KKN di Sumedang yang meledakkan lambung]. Terdapat sedikit kemelesetan dalam dialog bahasa Sunda dengan penduduk, namun tidak menjadi soal sebab dewasa ini, warga di daerah pun lebih fasih berbahasa Indonesia dibanding menggunakan bahasa leluhur. Bila selama ini para pelancong hanya menjelajah sekitar Bandung dan tempat berbelanja alias FO, membaca A Message of Love akan membetot rasa ingin tahu akan adanya desa elok bernama Cibulan Wetan di perbatasan Garut-Tasikmalaya.

Penulis menyisipkan adegan menarik ihwal garis batas yang harus dipatuhi seseorang dalam pola asuh ibu dan anak. Zahra merasa iba pada anak kecil yang rewel karena tidak diberi permen, lalu mengulurkan satu kepadanya. Meski tak lupa berterima kasih, sang ibu menjelaskan bahwa perbuatannya bukan tanpa alasan. Kadang anak-anak menggunakan rengekan sebagai senjata, dan ibu tersebut tidak ingin buah hatinya terbiasa memperoleh segala yang diinginkan begitu saja. Terlebih, ia sudah terlalu banyak makan permen. [hal. 220-223].

Yang terang, membaca novel ini membuat saya kian cinta menetap di desa. Sebagaimana petikan berikut,
“Tidak semua tempat di dunia mampu menawarkan kebahagiaan seperti di sini, Zahra,” kata Eyang suatu hari, duduk di dalam saung bambunya di tengah hamparan kuning padi dan kicauan burung. [hal. 26]
sumber : resensibuku.com

0 komentar:

Posting Komentar