Rabu, 14 Juli 2010

Cinta Sejati Alita


Sumber: Okezone, 10 Mei 2010
Judul Buku: ALITA @ FIRST
Peresensi: Ersina Rakhma
Pengarang: Dewie Sekar
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, Februari 2010
Tebal: 328 halaman


Baru pertama kalinya saya membaca novel karya Dewie Sekar, dan baru pertama kalinya saya meneteskan airmata lebih dari sekali saat membaca novel metropop. Novel ini begitu menyentuh saya di beberapa bagian, selain fakta bahwa saya mempunyai seorang kakak laki-laki yang berusia jauh di atas saya dan pernah mempunyai cinta yang takkan pernah termiliki. Saya yakin bahwa ada pembaca yang pernah mempunyai kisah serupa. Cerita Alita, Yusa, Abel dan Erwin dalam meraih cita-cita dan cinta sangat lekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

Alita, seorang remaja berusia 13 tahun yang baru menginjak bangku SMP, terpesona pada seorang pria teman kakaknya, Yusa. Pembawaan Erwin, pria itu, sangatlah menyenangkan. Sehingga mampu membuat Alita yang pendiam menjadi ceria dan bisa banyak bercerita. Namun satu sifat Erwin yang tidak baik, yaitu begitu banyaknya wanita yang tergoda pesonanya menyebabkan terdapat kesan bahwa Erwin playboy yang gemar mempermainkan wanita.

Yusa, mama, bahkan eyang putri memperingatkan Alit agar tidak jatuh pada perangkap Erwin. Sayangnya perasaan memang tidak dapat ditolak kehadirannya. Cinta itu tumbuh perlahan yang berkelanjutan hingga mengendap di dasar hati Alit yang terdalam dan tidak bisa dijangkau siapapun lagi. Namun Alita tetap menemukan akal sehatnya dan menyimpan rasa itu diam-diam.

Saat Alit memutuskan untuk kuliah di Jogja sambil menemani eyang putrinya, Yusa telah bekerja di Surabaya dan Erwin kembali ke Jakarta. Intensitas pertemuan secara fisik tentu telah berkurang, digantikan oleh teknologi masa kini, e-mail.

Kuasa Allah-lah yang mengatur pertemuan dan perpisahan seseorang. Ava, kekasih Yusa, mengalami kecelakaan lalu lintas dan meninggal dunia. Kejadian itu menyebabkan Alit bertemu kembali dengan Erwin. Pria itu menghibur kesedihan Alit, kembali membangun rasa cinta Alit. Hingga saat Erwin mengatakan bahwa kebawelan Alit mirip dengan Tira, kekasihnya, hati Alit terkoyak. Dia pun memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan Erwin, entah itu puisi yang rutin mereka kirimkan tiap bulan, ataupun SMS dan telepon. Alit mengganti alamat email dan nomor handphone-nya.

Hari berganti bulan, Alit yang selalu menyimpan Erwin di hatinya, dibujuk Abel sahabatnya agar mau berkenalan lebih jauh dengan Baim, seorang mahasiswa yang kos di depan rumah eyang putri. Pada hari Sabtu yang telah mereka tentukan untuk berkencan, tak disangka Erwin datang ke Jogja. Reaksi Alit yang meneteskan airmata saat menemui Erwin, menjawab semua pertanyaan Erwin mengapa Alit tidak membalas email dan teleponnya.

Perasaan Alit tertumpah sudah saat itu. Dia tak lagi malu mengakui bahwa dia menyukai Erwin, dan Erwin pun membuka semua kisah sepak terjangnya selama ini bersama para wanita. Dan Tira adalah wanita yang diharapkannya menjadi yang terakhir dalam hidupnya, bahkan mereka berniat untuk menikah. Alit tidak berharap apapun lagi pada Erwin, dia hanya ingin mencoba membuka hati untuk Baim.

Namun perasaan Alit pada Erwin terlalu kuat. Saat pak pos datang mengantar paket untuk Alit dari Erwin yang berisi kain brokat serta undangan pernikahan Erwin dan Tira, raut wajah Alit cukup menjelaskan bagaimana hancurnya perasaan gadis itu. Baim pun cukup pintar untuk membaca ekspresi Alit. Jika saya boleh menggambarkan perasaan Alit itu dengan kata-kata saya sendiri, akan saya katakan pasti hatinya serasa ditusuk pedang yang tajam dan perlahan pedang itu berputar sehingga pedihnya makin terasa dan takkan pernah hilang.

Begitulah sebagian kecil dari kisah Alita, dan tidak berhenti sampai disitu karena masih ada berbagai peristiwa yang selalu mengaduk-aduk perasaan Alita pada Erwin. Dan satu hal yang selalu ditekankan Alita pada hatinya dan juga pada Erwin, yaitu sekuat-kuatnya perasaan cintanya pada Erwin, dia selalu menggunakan akal sehat dan tidak buta untuk begitu saja menerima Erwin sebagai pasangan hidupnya.

Lalu bagaimana kelanjutan cinta Alita ini? Akankah cinta Alita dan Erwin berlabuh di pelaminan ataukah ada rencana Allah untuk mereka? Yang pasti, Alita telah mengetahui hikmah di balik kepergian Ava, kekasih kakaknya. Yaitu Allah mempersiapkan hati mereka untuk menerima kehilangan yang lebih besar lagi.

Novel ini begitu menyentuh hati saya, baik karena beberapa kesamaan saya dengan Alita, tetapi juga sikap Alita yang begitu teguh memegang logika diatas perasaannya. Hal yang menurut saya sudah jarang dilakukan oleh insan yang lagi dimabuk asmara. Selain itu juga pengendalian diri Alit terhadap hatinya sehingga kontak fisik paling intim yang Alit dan Erwin lakukan adalah berpelukan.

Selain dari sisi cerita, penggunaan kalimat yang tidak bertele-tele juga menjadi daya tarik dari novel karena menjadikan karya Dewie Sekar ini  mudah dipahami dan tidak membosankan. Satu hal yang bisa saya pastikan, siapkan tissue sebelum Anda duduk  manis dan membaca kisah Alita dari awal  hingga akhir. Saya yakin Anda membutuhkannya.

Ersina Rakhma
Penikmat Buku, Tinggal di Jakarta
resensi dipost-kan oleh resensibuku.com

0 komentar:

Posting Komentar