Jumat, 17 September 2010

Belajar Filosofi Kehidupan dari Tokoh Wayang




Wayang merupakan seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Pulau Jawa dan Bali. Pertunjukan wayang telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan sangat berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).

KESABARAN DARI YUDHISTIRA

Orangnya pendiam tidak banyak bicara. Kalaupun berbicara tidak banyak direkayasa supaya menarik perhatian orang. Ia sabar, jujur dan adil serta pasrah dalam menghadapi cobaan hidup. Dialah yudhistira.
Karena jujur dan sabar harus disertai keceriaan, maka ia mampu memenjarakan nafsu. kesabaran tanpa keceriaan belum dapat dikatakann sabar.

"Kesabaran akan mampu mengantarkan kita berdiri seimbang ditengah hempasan penderitaan kehidupan, mengantarkan kita sebagai sejatinya pemenang dalam pertarungan maha dasyat dengan ego dan nafsu diri, menjadi sosok yang selalu memberi damai dengan senyum yang merekah berbunga"

KUAT DAN PENUH LOYALITAS SEPERTI BIMA

Ia dianggap sebagai seorang tokoh heroik. Bima memiliki sifat gagah berani, teguh, kuat, tabah, patuh dan jujur, serta menganggap semua orang sama derajatnya, sehingga dia digambarkan tidak pernah menggunakan bahasa halus (krama inggil) atau pun duduk di depan lawan bicaranya. Dia dulu pernah berjanji " saya tidak akan mengenakan baju, sebelum saudara2 saya mengenakan baju pula". selain sangat kuat bima sangat religius, dan sangat patriotis.

"Lebih banyak orang yang meminta kepada Tuhan agar diringankan bebannya, daripada yang meminta agar diberikan tulang punggung yang lebih kuat."

Pengorbanan seperti Gatot Kaca


Di Indonesia, Gatotkaca menjadi tokoh pewayangan yang sangat populer. Kesaktiannya dikisahkan luar biasa, antara lain mampu terbang di angkasa tanpa menggunakan sayap, serta terkenal dengan julukan "otot kawat tulang besi". gatot kaca adalah anak bima.jika gatot kaca tidak dikorbankan mungkin bisa saja sri kresna atau anggota pandawa lainnya yang jadi korban, karena senjata adipati karna itu hanya bisa digunakan sekali saja. Menyadari ajalnya sudah dekat, Gatotkaca masih sempat berpikir bagaimana caranya untuk membunuh prajurit Kurawa dalam jumlah besar. Maka Gatotkaca pun memperbesar ukuran tubuhnya sampai ukuran maksimal dan kemudian roboh menimpa ribuan prajurit Korawa. Pandawa sangat terpukul dengan gugurnya Gatotkaca.

"Loyalitas akan memimpin keberanian. Keberanian akan mengarahkan semangat pengorbanan diri. Semangat pengorbanan diri menciptakan kepercayaan dan keyakinan dalam kekuatan manusia yang sebenarnya"

CINTA KASIH DARI SRI RAMA

Di dunia pewayangan, nama Rama dan Sinta sudah jadi legenda. Cinta Rama kepada Sinta sedemikian besarnya, sehingga dia rela menempuh segala mara bahaya untuk merebut kembali cintanya. Dan Sinta pun rela berkorban untuk membuktikan kesucian cintanya kepada Rama. Sehinga kisah cinta Rama dan Sinta menjadi legenda sepanjang masa.

"true love doesn't have happy ending, because true love never end's"

BELAJAR KELEMBUTAN HATI SEPERTI ARJUNA

Ia dikenal sebagai sang Pandawa yang menawan parasnya dan lemah lembut budinya. kata Arjuna bisa berarti "jujur di dalam wajah dan pikiran".
Ia murid kesayangan kreshna sampai2 sri kreshna mengemudikan keretanya saat perang mahabarata, agar arjuna leluasa menembakkan panahnya.Arjuna merupakan kesatria pertapa yang paling teguh. Pertapaannya sangat khusyuk. Ketika ia mengheningkan cipta, menyatukan dan memusatkan pikirannya kepada Tuhan, segala gangguan dan godaan duniawi tak akan bisa menggoyahkan hati dan pikirannya. Arjuna bertarung dengan para kesatria hebat dari pihak Korawa, dan tidak jarang ia membunuh mereka, termasuk panglima besar pihak Korawa yaitu Bisma.

"Kadang kala, hati dapat melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh mata, masih beruntung orang2 yang selalu menggunakan hatinya untuk melihat tampakan nurani, mendengar suara nya, dan melaksanakan kesenangan hatinya, yaitu mendekatkan diri dengan tuhannya"

MENJADI SATRIA SEJATI SEPERTI BISHMA

Dalam perang mahabarata Bishma Berjanji!!
"ketahuilah pantanganku ini, bahwa aku tidak akan menyerang seseorang yang telah membuang senjata, juga yang terjatuh dari keretanya. Aku juga tidak akan menyerang mereka yang senjatanya terlepas dari tangan, tidak akan menyerang orang yang bendera lambang kebesarannya hancur, orang yang melarikan diri, orang dalam keadaan ketakutan, orang yang takluk dan mengatakan bahwa ia menyerah, dan aku pun tidak akan menyerang seorang wanita, juga seseorang yang namanya seperti wanita, orang yang lemah dan tak mampu menjaga diri, orang yang hanya memiliki seorang anak lelaki, atau pun orang yang sedang mabuk. Dengan itu semua aku enggan bertarung"
Tokoh tua ini terbaring di atas ratusan panah yang menembus tubuhnya, yang ditembakkan oleh arjuna.

"dalam setiap pertarungan apapun, bersaing dimanapun, di kantor, sekolah, di lingkunagn kita tinggal, kita sudah harus terbiasa, mendoakan, siapapun lawan kita, agar selalu seimbang dan sama kuat dengan kita, agar memang yang terbaik dan yang pantas yang benar benar mendapatkan kemenangan"

BELAJAR BIJAKSANA DARI "KRISHNA"

Dalam pewayangan Jawa, Prabu Kresna merupakan Raja Dwarawati, kerajaan para keturunan Yadu (Yadawa) dan merupakan titisan Dewa Wisnu. Kresna adalah anak Basudewa, Raja Mandura. Pada perang Bharatayuddha, beliau adalah sais atau kusir Arjuna.

"Kadang kita mengidentitaskan diri kita dengan badan, kadang dengan pikiran, kadang dengan emosi. Kadang kita terlibat dengan benda-benda duniawi yang tidak permanen. Kadang kita bersuka ria, kadang tenggelam dalam duka yang tak terhingga. Kita melupakan identitas diri kita yang sebenarnya. Kita lupa akan ‘Aku’ yang sejati, yang tak pernah musnah, yang akan selalu kekal dan abadi."


sumber : kaskus.us

0 komentar:

Poskan Komentar